“Kasih yang Sempurna dan Sejati”: Renungan, Rabu 8 Januari 2020

0
632

Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan (P)

1 Yoh. 4:11-18; Mzm. 72:1-2, 10-11, 12-13; Mrk. 6:45-52

Apakah Anda pernah merasa takut atau khawatir akan hidup Anda? Misalnya takut gagal dalam mengikuti ujian masuk universitas favorit ? Atau takut gagal mengikuti tes masuk anggota TNI dan POLRI? Atau yang lebih ekstrim lagi, takut dengan orang yang kita cintai menduakan cinta kita? Contoh-contoh ini pasti sudah pernah kita alami. Baik yang dialami sendiri maupun yang kita saksikan dari pengalaman orang lain. Perasaan takut dan khawatir merupakan hal yang wajar dan sangat manusiawi.

Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita untuk mempunyai keberanian agar kasih Allah sempurna dalam diri kita. Rasul Yohanes dalam suratnya yang pertama berkata, “…kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai kepercayaan pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. Di dalam kasih tidak ada ketakutan; kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna dalam kasih” (1 Yoh. 17-18).

Perkatannya menegaskan kepada kita bahwa kasih Allah sungguh menyelamatkan. Kasih-Nya sempurna dan tidak berkesudahan. Bahkan dalam ayat-ayat sebelumnya, dia mengajak kita mengasihi sesama kita. Kita mengasihi Allah yang tidak kelihatan. Mengapa sesama kita yang segambar dengan Allah dan kita jumpai setiap hari, malah kita benci?

Allah sudah terlebih dahulu mengasihi kita. Oleh karena itu, Dia ingin kita melakukan hal yang sama. Yakni mengasihi sesama manusia seperti kita mengasihi-Nya. Dengan kita mengasihi sesama, Allah hadir dan tinggal dalam diri kita.

Kisah Injil hari ini pun mengisahkan tentang para rasul yang merasa takut. Mereka takut ketika melihat Yesus berjalan di atas air. Bahkan karena ketakutan, para rasul berteriak-teriak. Mereka beranggapan bahwa Yesus adalah hantu. Tetapi Yesus menghampiri mereka dan berkata, “Tenanglah! Aku ini, janganlah takut! (Mrk. 6:50). Ayat ini mau menyadarkan kita bahwa Dia adalah penggenapan akan kasih Allah. Yesus diutus Allah untuk menyelamatkan umat manusia. Seseorang yang menghadirkan Yesus dalam dirinya pasti akan merasa tenang dan tidak takut. Apakah kita sudah mengajak Yesus hadir dalam diri kita dan sudah mengasihi sesama kita?

(Fr. Michael Mefri Kewo)

“Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia” (1 Yoh. 4:16).

Marilah Berdoa:

Allah yang Maha Pengasih, terangilah hati kami dengan Roh Kudus-Mu agar kami senantiasa mengasihi sesama kami. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here