“Menjadi Saksi Kristus”: Renungan, Kamis 26 Desember 2019

0
1571

Pesta S. Stefanus, Martir Pertama (M)

Kis. 6:8-10;7:54-59; Mzm. 31:3cd-4,6,8ab,16bc,17; Mat. 10:17-22

Santo Stefanus yang pestanya kita rayakan hari ini, merupakan contoh pengikut Kristus yang tekun. Ia adalah seorang saksi Kristus yang memahami semangat perjuangan Yesus secara penuh. Stefanus adalah salah seorang dari tujuh diakon yang ditahbiskan oleh para rasul dan merupakan martir pertama dalam era Kekristenan. Dalam bacaan pertama, Stefanus tampil sebagai tokoh yang penuh dengan Roh Kudus. Ia mengadakan mukjizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. Namun, karena karunia dan kuasa itu, ia sangat dibenci oleh orang-orang Yahudi. Mereka bahkan menyeretnya keluar kota dan merajamnya dengan batu hingga ajal menjemputnya.

Kisah kemartiran Stefanus ini, memberi inspirasi bagi kita pada masa Natal ini. Pertama, melalui semangat natal, kita diberi kekuatan dan keberanian untuk menjadi saksi Kristus. Dalam Injil Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Waspadalah terhadap semua orang! Sebab ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Dan karena Aku kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah. Janganlah kamu khawatir akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berbicara, melainkan Roh Bapamu; Dialah yang akan berbicara dalam dirimu” (Mat. 10:17-20). Perkataan Yesus ini sejatinya sudah dialami Stefanus sebelum dibunuh. Ia penuh dengan Roh Kudus dan berani mengakui imannya di hadapan para musuh Kristus. Apakah kita juga memiliki keberanian untuk bersaksi tentang Kristus?

Kedua, kemartiran Stefanus membantu kita untuk memahami bahwa Natal adalah peristiwa penyerahan diri secara total kepada Tuhan. Sama seperti Yesus yang menyerahkan segalanya ke dalam tangan Bapa sehingga memilih Bethlehem sebagai tempat kelahiran dan permulaan penderitaannya. Demikian kita semua belajar untuk pasrah dan berserah kepada Bapa.

Ketiga, kemartiran Stefanus membantu kita untuk mengimani Roh Kudus. Kita diajak  untuk berusaha hidup dalam Roh Kudus. Sebab, orang yang hidup dalam Roh Kudus akan memiliki kebijaksanaan dan keberanian untuk bersaksi.

Kemartiran Stefaus juga merupakan titik awal kemartiran para murid Kristus. Pada masa setelah Stefanus, semua murid Kristus mengalami penganiayaan. Sebagaimana yang dikatakan Yesus dalam Injil. Jadi beranikah kita menjadi saksi dan pengikut kristus yang sejati? Ingat, “Orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat”. 

(Fr. Dedianus Pati)

“Karena bukan kamu yan berkata-kata, melainkah Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu” (Mat. 10:20).

Marilah berdoa:

Ya Bapa, semoga kami dapat menjadi saksi kebenaran dan keadilan dengan berani dan penuh sukacita. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here