“Natal”: Renungan, Rabu 25 Desember 2019

0
4005

Hari Raya Natal (P)

Yes. 52:7-10; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4,5-6; Ibr. 1:1-6; Yoh. 1-1-18 (Yoh. 1:1-5,9-14)

Hari Raya Natal adalah perayaan kegembiraan, yang didasarkan pada kenyataan bahwa telah terwujudlah sebuah periode baru dari keselamatan Allah bagi umatNya. Sekaligus sebagai tanda pemenuhan janji Allah. Terdapat tiga pokok yang patut kita renungi dari peristiwa penting ini.

Hal pertama bertolak dari apa yang dinubutkan oleh nabi Yesaya. Sebuah nubuat yang menegaskan hadirnya seorang raja yang akan memulihkan Israel di mata Tuhan dan bangsa-bangsa lain. Dan hal ini bukanlah sebagai sebuah kemustahilan bagi Israel yang telah mengalami banyak kekecewaan dengan rajanya yang justru menjerumuskan Israel ke dalam kesengsaraan. Dan sekarang telah tiba saatnya bahwa Israel dipulihkan kembali, sebab Allah meraja.

Hadirnya pemimpin baru itu dinyatakan oleh Yesaya: sebab dengan mata kepala sendiri mereka melihat bagimana Tuhan kembali ke Sion. Bergembiralah, bersorak-sorailah Bersama-sama hai reruntuhan Yerusalem. Pemulihan ini diwujudkan dengan penebusan Allah bagi Yerusalem sehingga seluruh ujung bumi melihat keselamatan yang datang dari Allah. Ini adalah sebuah nubutan yang mau menyadarkan Israel bahwa Allah tidak melupakan mereka.

Hal yang kedua, itulah lewat apa yang dinyatakan dalam injil Yohanes: Sabda sudah menjadi manusia. Sang sabda itu adalah Allah sendiri, dan adalah asal usul segala sesuatu di muka bumi. Lewat pernyataan sedemikian penginjil Yohanes mau menegaskan bahwa kelahiran yang istimewa ini adalah peristiwa di mana Allah masuk dalam sejarah kehidupan manusia.

Dia datang untuk menjadi terang bagi kita manusia agar supaya bisa hidup dalam terang itu. Hidup dalam terang itu berarti mengambil bagian dalam kebijaksaan hidup Allah juga. Mereka yang menerimaNya berarti berada dalam kebijaksanana itu, dan mereka yang menolaknya adalah mereka yang hanya terikat pada dunia ini. Kebijaksanaan ini mengajak kita untuk mengenal Sang Bapa bukan untuk mengenal dunia. Sebab Dia berasal dari Bapa.

Hal ketiga, dengan bertolak dari apa yang temuat dalam surat orang Ibrani, kita dapat menyadari bahwa lewat peristiwa inkarnasi, maka dikatakan bahwa Allah berbicara kepada kita dengan pengantaraan Anak-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa Allah berbicara langsung kepada kita manusia, tanpa memerlukan nabi-nabi lagi. Sebab kepada nenek moyang Israel Allah berulang kali dan dalam berbagai cara berbicara dengan perantaraan para nabi. Mengenai sang Anak dikatakan Anak-Nya itulah  yang ditetapkan-Nya sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dialah Allah menjadikan alam semesta, Dialah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah. Inilah kesempatan bagi manusua untuk mengenal Allah lebih dekat.

Bertolak dari apa yang ditegaskan sabda Tuhan pada hari raya ini, maka kita sungguh menyadari bahwa ada hal yang sangat istimewa di dalamnya. Hal ini lewat peristiwa yang menyejarah dan manusiawi yakni kelahiran.

Seperti para gembala, kita pun diundang untuk mencari dan menemukan Allah yang telah lahir bagi kita. Ia ada di sekitar kita, dalam diri mereka yang butuh cinta dan perhatian kita. Dalam peristiwa Natal Allah telah menunjukkan kepada kita makna cinta dan solidaritas. Dengan cinta itu pula Ia mengajari kita agar menghargai kehidupan di mana kita hidup dan berada. Inilah tugas kita!

(Pst. A. Bayu Nuyartanto, Pr.)

“Pada mulayanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh. 1:1).

Marilah berdoa:

Ya Bapa, bersama kelahiran Putra-Mu, semoga kami semakin merindukan terwujudnya kebaikan ilahi dalam segala segi kehidupan kami. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here