“Pilihan Hidup”: Renungan, Minggu 10 November 2019

0
4828

Minggu Biasa XXXII (H)

2 Mak. 7:1-2, 9-14; Mzm. 17:1,5-6, 8b, 15; 2 Tes 2:16- 3:5; Luk. 20:27-38 (Luk. 20:27.34-38)

Kehidupan sekarang ini sering ditawari dengan berbagai pilihan. Banyak orang lebih memilih untuk hidup senang, nyaman dan mapan. Pilihan yang demikian tidak ada salahnya. Namun pilihan untuk hidup mapan seakan membawa orang untuk kurang memahami dan menyadari apa yang menjadi tujuan dari hidupnya. Orang akan lebih berusaha untuk memiliki jaminan kemapanan berupa kekayaan serta kedudukan. Sehingga memiliki kemapanan hidup di dunia membuat orang terlena untuk lebih memilih kesenangan diri.

Yesus, dalam Injil hari memberikan jawaban atas pertanyaan orang Saduki mengenai kebangkitan. Mereka tidak percaya akan adanya kebangkitan orang mati. Mereka membawa kepada Yesus, argumen mengenai seorang wanita menikah yang sampai tujuh kali, lalu semua suaminya mati.

Menghadapi pertanyaan demikian, Yesus memberikan jawaban dengan tulus kepada mereka. Yesus mengatakan bahwa orang yang dibangkitkan itu, tidak kawin dan dikawinkan lagi. Ia memberikan pemahaman bahwa ada kehidupan abadi yang tidak sama dengan kehidupan di dunia ini. Kehidupan yang abadi, tidak akan menunjukkan bahwa orang akan kawin dengan siapa. Tetapi, kehidupan abadi adalah bagaimana orang dibangkitkan sebagai anak-anak Allah dan menjadi sama seperti malaikat.

Yesus menunjukan bahwa ada hidup sesudah kematian. Hal ini menegaskan bahwa Allah adalah Allah hidup dan bukan Allah orang mati. Perkawinan dalam hidup di dunia ini adalah baik. Namun setelah hidup di dunia, tidak akan ada lagi perkawinan, melainkan kebangkitan sebagai anak-anak Allah.

Kitab Makabe menyebutkan pengalaman iman dari ketujuh bersaudara bersama ibunya yang mengalami penderitaan. Dengan imannya mereka percaya bahwa ada kebangkitan sesudah kematian.

Dalam kehidupan di dunia ini, kita diberikan banyak pilihan untuk memahami panggilan Allah. Menjalani hidup berkeluarga, pun dalam panggilan kehidupan lainnya semuanya membawa kita pada tujuan hidup kekal. Berbagai pencapaian dan prestasi yang diraih dalam hidup di dunia ini, sejatinya adalah untuk membawa kita mencapai kebangkitan sebagai anak Allah.

Terkadang kita menjadi lupa akan apa yang menjadi tujuan hidup kita. Keadaan sekarang ini sering membawa kita untuk lebih mengejar kemapanan hidup sementara daripada kemapanan hidup kekal. Kalau kita hidup baik dan benar serta, menyatakan kasih-Nya bagi sesama, dari situlah kita sedang membangun pilihan hidup kekal.

(Fr. Dkn. Jufri Dotulong)

“Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup” (Luk. 20:38a).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga kami makin mengarahkan diri untuk hidup kekal. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here