“Dissimiles Summus Sed Unum”: Renungan, Kamis 6 Juni 2019

0
666

Hari Biasa Pekan VII Paskah (P)

Kis. 22:30;23:6-11; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11; Yoh 17:20-26

Sebagai orang Indonesia kita mengenal semboyan “Berbeda-beda tetapi satu”. Kesatuan ada karena adanya perbedaan. Perbedaan akan semakin menjadi indah kalau ada persatuan; baik itu dalam hidup berkeluarga, agama dan bermasyarakat. Sebagai orang beriman yang hidup dalam keberanekaragaman Kristus menghendaki supaya setiap orang menjadi sempurna bersama Kristus di dalam kemuliaan Allah.

Dalam Injil, Yesus dalam doa-Nya memohon agar semua orang yang percaya kepada-Nya dapat bersatu terutama bersatu dengan Dia. Supaya apa? Supaya orang boleh diperkenankan memandang kemuliaan Allah. Itulah kesempurnaan. Kesempurnaan bagi orang beriman adalah bersatu di dalam kemuliaan Allah bersama dengan Kristus. Ini berarti bahwa kalau orang beriman tidak memandang persatuan sebagai hak yang harus diperjuangkan maka ia mengingkari kasih Allah. Dengan demikian manusia tidak lagi memperjuangkan kesatuan di tengah-tengah perbedaan tapi malah menciptakan perbedaan di dalam persatuan. Inilah tantangan bagi orang yang mengimani Kristus.

Paulus dalam bacaan pertama, melalui pewartaannya, memperjuangkan kesatuan di dalam perbedaan itu sendiri terutama mengenai praktek iman tetang Allah. Hal ini dilakukan oleh Paulus agar setiap orang percaya bahwa Kristus adalah putra Allah. Sehingga orang dapat bertobat, berbalik dan bersatu dengan Allah di dalam Kristus, agar orang dapat memandang kemuliaan Allah. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, orang-orang mendengar perwartaannya sebagai suatu potensi yang dapat menghancurkan. Berbagai macam tuduhan yang tujukan kepadanya dan bahkan kehadiranya membawa perpecahan. Inilah tantangan yang dialami oleh Paulus. Dan hal yang menarik dalam bacaan pertama adalah bahwa ternyata Tuhan tidak pernah meninggalkan dia.

Kerinduan orang Kristiani adalah bersatu di dalam kemuliaan Allah. Kita semua adalah anak-anak Allah, yang dipanggil untuk senantiasa mengusahakan persatuan. Baik itu di dalam keluarga, sebagai anggota Gereja dan masyarakat. Hal yang perlu kita sadari dalam memperjuangkan kesatuan di tengah-tengah perbedaan yakni kita tidak luput dari tantangan. Kita dapat bercermin dari Paulus. Hingga pada akhirnya kita bersatu dengan Allah yang kita imani. Dan pada akhirnya kita perlu melihat ke dalam diri kita. Apakah sikap, tindakan dan perwartaan kita selama ini membawa persatuan atau sebaliknya menciptakan perbedaan?

(Fr. Yustinus Mogi Saelong)

Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti kita adalah satu” (Yoh. 17:22).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, persatukanlah kami sebagai anak-anak-Mu. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here