“Peka terhadap Sesama”: Renungan, 13 Maret 2018

0
1035

Ketika saya dan teman-teman tingkat menjalankan tugas Diakonia- Martiria di sebuah rumah sakit dan di sebuah panti asuhan, kami berjumpa dengan orang-orang sakit yang sedang bergumul dengan penyakitnya masing-masing. Kurang lebih dua hari kami hidup bersama mereka: memberi makan dan minum, membantu mendorong kuris roda, dan bercerita bersama, juga mendoakan mereka. Pengalaman ini menghantar saya kepada suatu refleksi bahwa segala sesuatu akan dilupakan dan merasa tidak berarti apabila kita sakit dan terbaring lemas. Yang diharapkan pada saat itu adalah campur tangan Tuhan agar dapat sembuh.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang orang-orang sakit yang datang ke kolam Betesda untuk mendapat penyembuhan. Orang-orang pada saat itu percaya dan yakin bahwa ketika air kolam itu berguncang itu tandanya ada malaikat Tuhan yang turun, dan siapa pun yang pertama masuk ke dalamnya akan sembuh. Dari antara orang-orang sakit itu ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun sakit, ia berbaring sangat lama di pinggir kolam dan mengharapkan kesembuhan. Dalam suasana pengharapan demikian, ternyata Yesus hadir dan menawarkan kesembuhan kepadanya. Yesus berkata kepada orang itu: “Maukah engkau sembuh?” Orang tersebut menjawab bahwa ia tidak dapat turun ke kolam jika tidak ada yang membantunya, dan sedangkan saat mau ke sana pastilah ada orang yang telah mendahuluinya. Yesus, yang oleh karena kasih-Nya yang besar, akhirnya menyembuhkan orang tersebut.

Bacaan Injil hari ini mengajarkan kepada kita salah satu keutamaan Kristiani. Kita dituntut untuk bersikap peka terhadap penderitaan sesama. Teladan yang Yesus tunjukkan kepada mereka yang sakit kiranya menjadi inspirasi bagi kita bagaimana menjadi orang kristiani yang sesungguhnya. Peka terhadap penderitaan sesama akan menghantar kita pada sikap empati dan kerelaan untuk menolong mereka. Menolong mereka yang menderita menjadi kegenapan hukum kasih: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Juga satu hal yang perlu kita ingat bahwa sekecil apapun bantuan yang kita berikan akan sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan. Hal lain juga yang dapat kita pelajari yakni dari orang yang sudah tiga puluh delapan tahun sakit namun tetap memiliki kesabaran hati dan pengharapan akan kesembuhan dari Tuhan sendiri. Memang tidak mudah untuk melakukan hal-hal demikian, namun sebagi pengikut Kristus kita diajak untuk bisa melakukannya dengan tetap memohon kekuatan dari Tuhan sendiri.

(Fr. Aloisius Wazi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here